Pages

1.03.2010

Bintang Kecil

Bintang kecil
di langit yang tinggi
(kok jadi nyanyi?)

Aku terdampar di sebuah pantai. Ombak melempar aku jauh, namun airnya tetap menggelitik kakiku.
Aku pergi tinggalkan air. Aku telah kering. Ombak itu tidak dapat lagi menyeretku.

Sekarang, aku berjalan di tepi pantai. Semua kelihatan sama, pasir. Pasir yang kecil, dengan butiran yang gak lebih besar dari biji jeruk. Warnanya sama.

Ahh, tidak menarik.

Aku duduk sampai larut malam. Deburan ombak terus menghantuiku.
Enggak, aku gak mau berenang. Dingin. Iya, air itu telah menjadi dingin. Lagipula aku telanjang. Hanya celana bokser yang menghangatkanku.

Aku duduk, kakiku kupijakkan di atas pasir. Aku ingin berbaring, biar pasir ini menghangatkanku.
Pasirnya cukup hangat.
Aku mulai menikmati angin malam.

"Klik"
Entah kenapa, aku mendengar kelip bintang di langit.
"Oh, bintang kecil", begitu pikirku.
Kecil, sangat kecil.
Cahayanya juga tidak seterang matahari.

Ah, bintang kan uda benda umum di malam hari. Untuk apa aku terkesima melihatnya.

Aku memejamkan mata, mencoba tidak mendengarkan deburan ombak yang berisik. Mencoba mencari ketenangan.

"Klik"

...


Ahh, aku tertidur.

Hal itu kusadari ketika aku membuka mata. Sudah pagi rupanya. Bintang kecil itu sudah tertutup cahaya matahari yang menyilaukan.

"Klik"
Namun, suaranya masi bisa kudengar.
Ah, bunyi shutter kamera, begitu pikirku.

Aku lalui hari itu dengan begitu-begitu saja.
Tanpa sadar, aku kembali merindukan malam. Merindukan ketenangan.
Soalnya malam tu sejuk. Anginnya enak. Pasti pikiranku jadi lebih adem.

Oh bukan angin. Cahaya bintang kecil itu yang memberikan ketenangan.
Kusadari ketika tidak ada angin, ketika tidak ada ombak.

Hanya cahaya bintang dan kelipnya yang menemaniku.

Benda umum? yaa mungkin bagi orang lain.
Bagiku, tidak.

Tak kujumpai bintang yang sama di langit. Dari ribuan bintang, entah kenapa hanya bintang kecil itu yang menarik.

Hmm, aneh, pikirku.
Apa yang membuatnya menarik?

Kulihat lebih dekat. Kutatap bintang itu.
Kecil, tapi indah. Mungil, tapi berarti.

Seperti engkau.












Tribute to the one who is really special in my heart.

2 komentar:

  1. Wew.. jago bet nih bikin endingnya. klimaks.

    btw, postingan ini jadi mengingatkan gw juga akan seseorang.... bukan, bukan alm. Gus Dur.

    BalasHapus